COFFEE BREAK : Putri Papua 2016, The Controversy

15:59


Hi there...
Welcome back gorgeous people.

Postingan blog ini adalah kelanjutan dari status FB yang baru gue tulis. Barusan aja. Hihihihih... 
Ceritanya tentang itu loh, Putri Papua 2016 yang di bully karena menarikan tarian Papua yang salah dan lemas, dan juga yang nggak representatif secara fisik.

Papua itu negara yang kaya....

Eh salah... Belum jadi negara ya teman-teman. #ups #jangandibredelplease 
Di Papua itu ada ratusan suku dengan ratusan bahasa yang berbeda. Selain itu, sebagai propinsi terujung kanan di peta Indonesia, terjauh dari ibukota, tentu saja pembangunan pasti kurang merata, mengingat negara kita adalah negara demokrasi terpimpin. Dan secara sejarah Papua juga adalah tempat tujuan program transmigrasi pemerintah. Ototmatis ya banyak pendatang. Hal ini menyebabkan banyak percampuran etnis disana.

Nahhhh... Balik ke pemilihan Putri-putrian ini...


Sebagai seorang crew di belakang panggung yang pernah kerja untuk acara-acara semacam ini, gue kasih bocoran yah.

Acara kayak begini memang salah satu sessionnya adalah sesi menunjukkan bakat. Seperti yang gue bilang di FB, stereotype nya adalah bakat yang bisa dipertontonkan dalam dunia pertunjukkan. Padahal ga semua bakat yang dipunya sekomersil itu. Biasanya pertanyaan yang diajukan oleh mentor acara adalah "Apa bakat kamu? nyanyi? nari? atau apa?" Nahhhh, mereka yang bakatnya nggak komersil akan otomatis milih diantara 2 itu. Kalau suaranya nggak bagus, atau kurang memenuhi standard, mereka akan pilih nari. Kalo salah nggak sekelihatan salah nyanyi gitu kali mikirnya. Mungkin ini yang kejadian sama Putri Papua 2016 ini. Sekalian untuk menjustifikasi statusnya sebagai orang Papua, tarian Papua lah yang dipilih. Karena FYI, masalah kulit hitam dan rambut keriting itu sensitif di Papua. Masalahnya, tarian Papua itu ga segampang yang dilihat. Maka terjadilah bully bullyan ini....


Aryani Mei Juventina adalah perempuan cantik yang lahir dan besar di Papua, yang kemudian terpilih sebagai Putri Papua 2016. Gue nggak mau ngomongin KKN yang terjadi di tiap pemilihan kayak gini. Tapi gue cuma mau membahas secara umum aja. Putri Indonesia dipilih dari Putri-putri perwakilan tiap daerah. Nah kalo gue sih lucu ya denger pengumuman yang misalnya begini "Putri Sulawesi Utara 2016 adalah... *drumroll* Raden Ajeng Siti...". Atau "Putri Sumatera Barat adalah... *drummroll* Thesalonica Kaunang..". Itu opini dari kulit yang paling luar. Yang FYI, Aryani ini bermarga Sitorus.
Bicara fisik, tiap daerah ada cirinya kok. Manado Putih. Batak wajahnya tegas. Papua keriting dan juga kulit hitam. Nahhhh, kalau gue sih, paling nggak ciri nya itu ada. Representatif deh secara fisik. Kecantikan bukan sekedar fisik, ofcourse. Tapi udah deh.. Ini kan ajang nyari Putri. Di formulirnya aja ada tinggi dan beratnya. Bohong kalo nggak ngeliat fisik. Udah jelas-jelas kok fisik jadi salah satu poin penilaian.


Oke kalau fisik belum tentu semua sama. Bisa aja nggak keliatan karena percampuran suku bapak dan ibu. Yaudah. Kalo gitu harus liat darah dan garis keturunan. Nggak hanya berdasarkan KTP aja. Jadi paling nggak kalau ditanya, Papua kok putih? bisa jawab, oh iya soalnya mama/papa nya Kalimantan / German / Tionghoa (misalnya).

Gue lahir Tanjung Priok dan besar di Pamulang. Technically, gue adalah orang Jakarta. Gue cinta banget sama Papua. Semua orang yang kenal gue juga tau kalo gue sangat cinta Papua. Gue menghabiskan waktu lebih banyak di Papua dibandingkan di Sulawesi Utara yang adalah roots gue. Di Instagram gue memulai hastag #PapuanByHeart yang diperuntukan buat mereka para Papuanis, bukan berdarah Papua, tapi jatuh cinta setengah mati sama Papua. In some cases sampai bercita-cita pindah ke sana seperti gue.


Tapiiiiiii.....

Secinta-cintanya gue sama Papua, gue nggak akan pernah jadi orang Papua dalam pengertian sebenarnya. Kalaupun gue berniat mengikuti pemilihan semacam ini, udah pasti gue akan balik ke Manado dan ikut dari sana. Gue nggak mau gue anak Sangir tapi dapet gelar Putri DKI atau Puteri Papua kalau gue menang. Ya rasanya ada yang salah. Gue nggak akan mau daftar dari awal juga. Kalau gue menang di Sulawesi Utara, Jadi Puteri Sulut misalnya, gue pasti juga dipertanyakan, kok hitam ga putih kayak orang Manado. Well gue bisa jawab, karena gue dari bagian Siau, Sangihe Talaud. Tapi masih di Sulawesi Utara juga. Paling nggak gue representatif dari unsur roots dan darah dan keturunan. Bermarga Sulawesi Utara pula. Alasan yang sama waktu itu gue nggak mau gabung dengan band rekaman Papua Original, walaupun pengen bangettttttt... karena gue akan menghianati konsep dari "Papua Original" itu sendiri. Gue ngerasa Putri Papua pun memiliki konsep serupa..

Walaupun begitu, gue percaya ada alasan dibalik terpilihnya Aryani sebagai Puteri Papua 2016. Bisa jadi karena nggak banyak perempuan Papua yang representatif, secara fisik, secara sejarah, darah dan keturunan yang ikut ajang ini. Mungkin. Bisa jadi. Apapun itu, kalau nggak setuju, cobalah untuk mengutarakannya dengan baik. Dengan bahasa yang baik. Jangan apa-apa itu emosi yang dikedepankan. Kita menjelek-jelekkan orang lain itu juga menunjukkan betapa jeleknya kita loh. There's always two side of the story.



Untuk beberapa hal gue setuju dengan Sukuisme untuk alasan-alasan tertentu.Tapi most of the time, gue percaya perbedaan itu membuat hidup lebih indah. Dan semua yang membuat dirinya tidak adaptable dengan perbedaan, akan selamanya hidup terpenjara sama pikirannya sendiri.

Pertanyaan terbesar gue adalah, kenapa Aryani Mei Juventina ini tidak memakai Sitorus di belakang namanya? Bahkan untuk biodata release resmi. Padahal gue tau banget betapa marga/boru itu sangat penting bagi orang Batak. Sangat penasaran bagaimana saudara-saudaraku dari Batak berkomentar tentang ini. Nggak mau provokasi. hanya pengen tau. Hihihihihihi...

Salam sejahtera bagi kita semuaaaa...

You Might Also Like

5 comments

  1. setahu aku sistem pemilihan finalis puteri indonesia itu berdasarkan suku dari orang tua atau domisili. jadi misal orang tua ku jateng, sumbar campur sumut dan aku berdomisili di banten maka bisa mewakili daerah tersebut selama daerah tersebut belum ada perwakilannya. di beberapa daerah ada penyelenggaraan kompetisi untuk mewakili daerah masing masing tapi ada juga yang ga seperti di papua. jadi pemilihannya terpusat di jakarta dengan melihat suku dan domisili tadi. Sebenarnya kalau perempuan di papua sana banyak yang berminat untuk ikut puteri indonesia tahun ini sangat mungkin aryani tidak melenggang jadi finalis karena mungkin lebih banyak yang representatif. mudah2an tahun depan dari papua lebih bersemangat ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan kalau memang pemilihannya spt itu, lucu jg kenapa aryani terpilih. Karena dia tidak berdarah Papua. Cuma besar dan lahir di papua.

      Delete
  2. Papua sudah dipilih dr papua kok. Sudah lama sekali pemilihannya dr papua. Bukan dr Jakarta. 😊. seperti Olva dan juga Virginia itu dipilih dr Papua baru berangkat ke jakarta.

    ReplyDelete
  3. Mungkin dia merasa berpeluang menang kalau dari Papua, secara persaingannya tidak ketat hehe

    ReplyDelete

thanks for visiting me... and for replying mine... :)