Sa Papua...

17:51



Hai hai....

Udah ah.. Bosen mau ngaku sebagai blogger yang buruk... Nggak perlu diomongin kalo itu sih... Tapi dari keabsenan gue yang luar biasa lama ini, gue bawa banyak cerita nih.... Seharusnya setelah baca cerita gue, kalian semua semakin cinta sama Indonesia dan semakin bangga jadi anak Indonesia. Nah ini cerita pertama gue.

PAPUA.....


Kalian mungkin tau Papua sebagai daerah paling timur Indonesia, yang kaya dengan tempat-tempat dan pantai pantai luar biasa, misalnya Raja Empat atau Wamena. Atau mungkin pernah denger karena pergerakan politik yang bikin suasana jadi mencekam...



Gue memang ga punya darah Papua. Gue juga nggak lahir disana. Gue asli dari Sulawesi dan lahir di Tanjung Priuk. Tapi sejak pertama kali gue menginjakkan kaki di negeri Cendrawasih ini, gue tau bahwa gue sudah jatuh cinta. Pertama kali gue kesana itu tahun 2003 saat bokap bertugas sebagai polisi disana. Langsung gue tau bahwa hati dan pikiran gue akan terikat didaerah itu.

Singkat kata singkat cerita, gue dan almarhum nyokap membangun beberapa bisnis di kota Jayapura. Selain itu kita juga membangun 1 rumah singgah untuk anak jalanan, untuk mendidik dan merehabilitasi mereka dari kecanduan menghirup lem Aibon. It was good. Sampai akhirnya bokap selesai tugas, nyokap meninggal, kesehatan gue memburuk dan konflik dengan beberapa lembaga disana, gue harus pindah lagi ke Jakarta karena minimnya fasilitas rumah sakit disana.

Tapi, karena dulu gue sangat aktif mewakili Papua dalam bidang olahraga dan sosial, banyak orang yang tau, bahkan yang di Jakarta, kalo ditanya, Ninneta mana? jawabnya adalah "Ninneta Papua..."


SEPTEMBER 2014

Akhiryaaaa.....
Gue diutus untuk menjadi relawan dari Rumah Harapan Melanie Subono, untuk membawa bantuan yang berhasil dikumpulkan sama Ka Melanie Subono untuk anak-anak di desa tertinggal di Papua. Seneng banget. Rasanya kayak pulang kampung setelah tahunan nggak pulang. 
Tugas gue kali ini adalah untuk pergi ke daerah Sentani, dimana ada sekumpulan mahasiswa Papua yang sering mengajar di sana secara sukarelawan, dan bukan di bangunan sekolah, tapi di perahu-perahu tradisional yang disebut dengan Khakay. Mereka kekurangan fasilitas belajar mengajar, seperti buku, alat peraga, alat tulis dan lainnya.




Gue berangkat sama 1 orang relawan lagi, namanya Dina. Ini adalah perjalanan pertama Dina menjadi relawan, yet, she's so helpfull. Malam itu gue berangkat naik salah satu pesawat komersil, dengan barang seberat 200kg.Dan yesssss, kami naik dari terminal 3, dimana itu ga ada porter. Jadi iyesssshhh, kita berdua yang ngangkat. 

Dengan darah dan keringat yang disertai iman percaya, kita berhasil naikin barang 200kg itu tanpa masalah yang berarti. Walaupun ada beberapa yang harus dibongkar karena tidak sesuai dengan regulasi nya. Tapi mba mba penjaga counternya itu luar biasa kooperatif banget, dan baikkkk banget. God bless your soul ya mba mba berjilbab yang awalnya galak bingits trus malah menitikkan air mata....


Mengingat waktu yang singkat, gue disana cuma punya waktu 5 hari dipotong perjalanan berarti gue cuma punya waktu 3,5 hari untuk keliling, gue langsung ketemuan sama temen-temen pengajar disana. Dari Bandara gue dijemput sama Bapa dan Mama Jakarimilena yang sudah dengan baik hati meminjamkan rumah juga untuk gue nginep selama disana. Setelah barang-barang di hitung sesuai dengan data anak-anak yang ada, gue dan temen-temen langsung menuju ke satu pelabuhan kecil disana untuk menyeberang ke desa Khameyaka. Perjalanan sekitar 30 menit.



Setelah menunggu hampir 1 jam, perahu milik kepala desa disana datang juga. Barang di loading, kita pun naik perahu. Sekitar 3 menit perjalanan, blarrrrrr.... HUJAN.... 
Yahhhh.... untunglah Plinces dan Dina baik baik aja, perjalanan juga llancar. Walaupun akhirnya jadi ketahuan bahwa rambut lurus Plinces itu adalah penipuan... Tapi puji Tuhan, semua aman....





Pesan dari ka Melanie Subono adalah untuk menyampaikan bantuannya langsung ke anak-anak kampung tersebut. Dengan meminta bantuan warga, semua anak dari beberapa kampung tersebut dikumpulan di semacam balai desa. Sebelum bantuan dibagikan, kita ngajak anak-anak untuk bermain dan bernyanyi. Gue juga melakukan penyuluhan tentang pentingnya menyikat gigi. Anak-anak dari desa tertinggal di Papua, banyak yang tidak mengenal budaya sikat gigi. Mereka membersihkan gigi mereka dengan memakan Pinang, yang sebenarnya membahayakan pertumbuhan gigi dan juga kesehatan mulut, serta meningkatkan resiko terkena kanker mulut.

DEPAPRE, TABLANUSU.


Setelah berkeliling di sekitar Sentani, hari berikutnya gue dan rombongan berangkat ke Tablanusu untuk mengantarkan bantuan ke Sekolah selanjutnya. Perjalanannya lumayan, sekitar 2 jam dari pusat kota. Untungnya alam disekitar jalanan yang gue lewatin itu super duper indahhhh. Jadi jarak tempuh dan jalanan rusak yang kita lewatin sama sekali nggak berasa. Gue diantar sama Mama dan Bapa Jakarimilena, karena kebetulan ini adalah kampung keluarga Jakarimilena.

Dalam jarak berkilo-kilo meter, sekolah SD YPK Amos Tablanusu ini adalah satu-satunya sekolah yang ada. Bukan hanya muridnya yang berasal dari hutan-hutan sekitar situ, bahkan gurunya pun ada yang harus jalan selama 1 jam untuk mengajar. 





Setelah berbicara dengan guru-guru untuk mengumpulkan data, gue kembali minta tolong untuk mengumpulkan anak-anak yang disekitar sana untuk menyampaikan bantuan. Memang bangunan sekolah ini lebih bagus dari sekolah lain yang gue kunjungin, tapi ternyata, sekolah itu bagus karena bantuan dari masyarakat sekitar dan gereja. Pas gue tanya, pemerintah? mama guru jawab, "Ah ada... dong bantu pasang tehel saja... itu pun cuma teras sini..." 

GOOD JOB PEMERINTAHHHH!!!!!!






Sama seperti di sekolah-sekolah yang lain, gue dan tim mengajak anak-anak bernyanyi dan bermain sebelum membagikan bantuan. Dan tentu aja memberikan edukasi tentang sikat gigi. Karena sudah melewati jam sekolah, jadi nggak banyak anak yang bisa kembali ke sekolah. Tapi tetap dapet bantuan kok.... Kaka Plinces kan anaknya baikkkkkk dan pemurahhhh hatiiinyaaaa.... nggak deng... emang pesenan dari Mama Mel, semua harus kebagiannnnn....

Tablanusu itu terletak di pesisir pantai. Dan desanya itu semua jalananya beralaskan batu. Jadi bisa ketahuan mana yang orang baru pertama kali datang disana mana dari cara jalannya. Selesai memberikan bantuan, Puji Tuhan masih siang, jadi gue sama tim masih sempet berenang. Ini adalah gajinya jadi relawan... And it's priceless!!






Gue cintaaaa banget sama pantainya.. Tapi yah sebagaimana adanya desa yang agak jauh dari kota, masyarakat masih minim pengetahuan tentang cara mengolah sampah. Jadi pantai yang indah itu penuh dengan sampah berserakan dan kurang tempat sampah. Sebagai Plincess setengah pesut,  demi menjaga kelestarian rumah gue, jadilah sebelum berenang gue mungutin sampah sepanjang itu pantai... 

Gue berjanji akan kembali lagi kesini, dan membantu masyarakat Tablanusu untuk bisa menjaga pantainya terbebas dari sampah. Kalau pantai nya bersih, banyak yang dateng, kesejahteraan juga bisa naik. Semua senang semua menang...




Setelah mulai sore, Bapa dan Mama Jakarimilena mngajak pulang. Mengingat jalanan yang terjal dan curam serta melintas hutan yang belum ada penerangannya, kita harus pulang sebelum benar-benar gelap. 

Terimakasih ya Bapa dan Mama Jakarimilena yang selalu setia menemani perjalanan kami, kasih tunjuk jalan, kasih tumpangan bobo, kasih makan dan kopi untuk anak-anak dari ibu kota ini. Tuhan Yesus berkati Bapa, Mama, kaka Mervin, kaka Miki dan keluarga lainnya selalu.



I feel so blessed bisa kembali lagi menjalani kehidupan sebagai relawan setelah beberapa tahun istirahat. Dan kali ini ke daerah yang sudah gue anggap sebagai kampung pertama gue. Somehow gue merasa bahwa gue adalah anak Papua asli. Gue cinta sekali pulau ini. Gue bertekad akan kembali ke Papua, tinggal disana dan membangun Papua. Papua sangat kaya, sangat indah, tapi akses untuk pendidikan, pengetahuan dan peradaban yang maju seperti benar-benar di cut sama pemerintah. Entah apa alasannya. Terkadang gue merasa bahwa anak Papua sengaja disulitkan segalanya, supaya tumbuh menjadi kurang pintar dan gede nya bisa selalu di monopoli dan diatur sama pusat.

Padahal potensi anak-anak Papua luar biasa. Anak-anak Papua itu langganan menang olimpiade science dan math. Kebudayaannya luar biasa. Disana nggak ada pengamen karena orang yang suaranya bagus berserakan dimana-mana.... Tapi kesempatan yang dikasih kecil banget. Hal ini harus dirubah... Gue tau gue ga punya darah Papua, tapi sungguh mati, Tuhan tau hati gue, gue akan kesana dan gue akan rubah itu semua, semampu yang gue bisa, selama umur yang dikasih Tuhan masih sisa...

God Bless Papua....



PS.
Terimakasih banyak untuk teman-teman dari Papua yang sudah membantu kelancaran kegiatan kk Plincess disana. Mardina Gita Isyana adalah Sarjana Komunikasi UI yang sebenernya bekerja sebagai EO di Jakarta Andi Jayadilaksana Putra (baju biru) adalah seorang Sarjana Kedokteran yang baru saja sidang pas hari kedua gue disana. Gima Jaya Sroyer (yang pegang ukulele) adalah Insinyur Mesin dari Universitas cendrawasih. Jean Phillip Nawipa (yang pake kacamata) adalah Insinyur di bidang Pesawat dari salah satu universitas di Nanjing China melalui program Beasiswa.Iyessshhh, mereka bukan anak-anak biasa. Pendidikannya baik, hatinya juga baik. Mereka adalah para relawan pengajar anak-anak desa tertinggal. Dan sedang Plincess setanin untuk jadi relawan lingkungan juga. hihihihihi.... Jangan pernah cape membangun daerah kalian yaaaa...kk Plinces akan kembali bergabung dengan kalian.... SUPER SOON!!!!

God bless your soul!!!



You Might Also Like

14 comments

  1. wah, asyik... dah sampe papua. jadi pingin kesana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayukkkk main kesanaaa... hihihihi.. bagus banget loh....

      Delete
  2. Pemandangannya keren bgt... pantainya keren.. itu fotoan pasti pake tongsis semua ya? hahaha.. Good job bisa ngasi bantuan kesana :D

    ReplyDelete
  3. Keren bangeeet Ninneta jadi relawan ke Papua... duh ngiler liat pantai-pantai Papua <3 bener2 priceless ya bisa kesana!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi... makasihhhh.. totally worth it Tiii....

      Delete
  4. Haduh sis, bikin ngiler banget itu papua panoramanya...nabung dulu sis biar bisa wisata ke papua .

    ReplyDelete
    Replies
    1. yukkkk, sekarang sudah nggak terlalu mahal kok. sudah ada batik airlines... yuk yuk kunjungi papauaaaa

      Delete
  5. oemjii...aku naksir sama pemandangan disana..kecuali raja ampat, kupikir papua itu biasa banget lho..nice post :)

    ~ bandarkrupux disini ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Papua itu rajanya pantai.. kamu bisa nemuin pantai yang pasirnya putih, pink hitam sampai yang batu semua 1 desa ada lohhhhh. hihihihi. tapi karena jauh jadi nggak terekspos...

      Delete
  6. Terharu baca postingan ini Kak.. :'(
    Iya bener banget kalau orang Papua itu punya potensi yang besar. Tahun lalu sy mengunjungi Universitas di sana, yang mana semangat belajar mereka itu 2kalilipat dari semangat orang-orang di sekitar saya. Sayang banget nih ya kalau pemerintah nggak pernah kasih andil yang berarti. Untuk apa sih dibikin kementerian daerah Timur dan tertinggal. >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Papua isunya banyak... dan daerahnya kayaaaa. keliatannya jadi kayak sengaja dibodohin gitu. hiks. Makanya kita yang di Jakarta ini sekarang lagi seru ketemu sama penerima beasiswa dari Papua untuk membangkitkan keinginan mereka balik kesana dan membangun daerahnya..... Pemerintah tuh.. duh speechless deh....

      Delete
  7. Km hebaattt bangett ya ninneta..salut buat km...^^

    ReplyDelete

thanks for visiting me... and for replying mine... :)